Teras Hukum
Harmoni Iman, Ilmu dan Tanggungjawab Sosial

Harmoni Iman, Ilmu dan Tanggungjawab Sosial

12 Mar 2026
           

Allah SWT menurunkan al-Quran tiada lain untuk memberikan jalan petunjuk bagi manusia di dunia melalui ilmu pengetahuan. Pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui mencari ilmu. Bagi orang-orang yang beriman mencari ilmu merupakan suatu kewajiban. Baik dari ilmu berbasis ilmu pasti, ilmu terapan dan ilmu agama yang dibentuk serta lahir dari pendidikan formal maupun non formal. Lebih khusus kewajiban seorang mencari ilmu agama dalam pandangan agama Islam yang sifat dihukumi fardhu kifayah.

Dalam suatu Hadist diriwayatkan oleh H.R Ibnu Majah, nomor 24 : Faridhatul alla kulli muslimiin wal muslimaat minnal lafdzhi illal lafdzhi.

Artinya : wajib hukumnya bagi setiap muslim untuk menuntut ilmu dari mulai lahir hingga sampai akhir hayat (meninggal dunia).

Hadist ini menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah hukumnya fardhu kifayah bagi laki-laki maupun perempuan. Ilmu merupakan kunci kebahagiaan dunia-akhirat dan sarana menunaikan kewajiban Allah. Makna kalimat sambung al dalam suku kata alla kulli muslimin merupakan kalimat pengkhususan mencari ilmu agama. Manakala seseorang telah memenuhi kewajiban mencari ilmu, maka gugurlah hukum tersebut bagi orang Islam.

Orang-orang yang beriman akan selalu cinta mencari ilmu. Mencari ilmu jalan untuk menyelamatkan bagi muslim yang beriman di dunia maupun di akhirat. Maka, seseorang yang mencari ilmu tidak mengenal batas waktu. Baik sejak dini maupun sudah menjelang ajal maut pun masih dihukumi fardhu. Karena, bagi seorang beriman yang melakukan aktifitas mencari ilmu, ada pahala ganjaran/ kebaikan amal yang akan mengalir, dan bagi yang mentransfer keilmuan merupakan amal jariyah yang tidak pernaj terputus, sepanjang ilmu yang diperoleh dipergunakan untuk kemaslahan lingkungan.

Di dalam makolah ulama disebutkan : “carilah ilmu sampai ke negeri China”. Agama Islam memotivasi kalimah ini sebagai bentuk menghargainya ilmu dan pengetahuan. Hingga seorang muslim diminta untuk mencari ilmu agama Islam di negeri Taipan yang notabe-nya mayoritas non muslim. Artinya Islam sangat terbuka untuk menerima ilmu yang out putnya untuk kebaikan dan kemanfaatan umat manusia sebagai bentuk rahmatan lil allamin sebagai bentuk kasih sayang kepada alam semesta. Ilmu pengetahuan tidak hanya bermanfaat kepada manusia saja, tetapi kepada alam semesta sepanjang tidak bertentangan dengan iman yang terkadung dalam perintah al-Qur’an dan al-hadist. Maka dari itu, iman adalah pondasi spritual agar tidak takabur atau sombong terhadap pemilik sang ilmu maha besar (ya kabbir muttakabir).

Ilmu merupakan jalan penuntun bagi umat manusia di dunia maupun di akhirat.  Ilmu menjadi menjadi jalan terang (cahaya) benderang dari kegelapan dan kebodohan zaman.  Ilmu itu akan menuntun manusia sebagai suatu petunjuk (huda linnas). Hubungan keilmuan dengan keimanan bagi muslim ibarat kata lokomotif kereta api dengan bantalan rel. Ilmu merupakan tujuan kereta api menuju perjalanan akhir sampai station terakhir pemberhentian. Sedangkan Iman merupakan rel / landasan bantalan untuk mengantarkan tujuan penumpang agar tidak melenceng sampai ke tempat tujuan. Keduanya harus saling integral sehingga memiliki kepekaan akan tanggungjawab sosial. Tidak sekedar seseorang naik kereta api saja lalu sampai pada pemberhentian terakhir, dimana disepanjang perjalanan ada masalah kesenjangan sosial, yaitu misal saja porter yang mencari nafkah untuk keluarga dan lain sebagainya. Maka, jalan melangkah mencari ilmu akan dimudahkan oleh SWT dalam segala urusan apapun di dunia dan akhirat.

Ilmu merupakan induk dari pada cabang pengetahuan. Pengetahun akan diperoleh melalui indera tubuh manusia, bisa penglihatan, pendengaran dan hati seseorang. Indera tubuh merupakan salah satu sumber pengetahuan sebagai intuisi manusia yang berada di dalam hati manusia. Pengetahuan yang sempurna akan menghasilkan keyakinan seseorang berilmu untuk menentukan, langkah baik atau buruknya terhadap pengetahuannya.

Sebagaimana firman Allah SWT  Qs. An-nahl ayat 78 : Wallāhu akhrajakum mim buṭūni ummahātikum lā ta'lamūna syai'ā(n), wa ja'ala lakumus-sam'a wal-abṣāra wal-af'idah(ta), la'allakum tasykurūn(a). 

 Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur".

Iman dan Ilmu harus berjalan beiringan. Iman seseorang akan menuntun ilmu agar tidak boleh saling mendahalui. Sebaliknya, ilmu yang dipakai tanpa iman, maka tidak akan bermanfaat untuk kebaikan, justru ilmu akan mendatangkan kemudharatan. Sedangkan orang yang berilmu pasti derajatnya akan ditinggikan oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al qur’an surat Al-Mujadilah ayat (11) berbunyi : yarfa‘illâhulladzîna âmanû mingkum walladzîna ûtul-‘ilma darajât, wallâhu bimâ ta‘malûna khabîr.

Artinya: “Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” [1]

Ilmu tidak akan bermanfaat tanpa dilandasi iman yang kuat akan semakin liar.  

Dalam doanya orang yang berilmu meminta kepada Allah SWT agar ilmu yang diperoleh bermanfaat. Seorang muslim yang memiliki ilmu tidak sekedar berhenti pada dirinya, melainkan harus bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia. Karena sebaik-baiknya manusia adalah dapat bermanfaat bagi sesamanya. Iman dan ilmu tidak sekedar dipahami secara teologis atau tekstual saja oleh sebagian besar umat Islam. Akan tetapi, pemahaman secara kontekstual hubungan antara iman dan ilmu tidak sebatas pada keyakinan yang berhenti pada rukun Iman ke-6 saja, tetapi ilmu harus diaktualisasikan terhadap lingkungan.

Dalam sabda Nabi Muhammad SAW diriwayatkan oleh H.R Ahmad dan Ath-Thabrani : Khairunnas anfauhum linnas.

Artinya: sebaik-baik manusia adalah bermanfaat bagi sesama manusia).

Makna yang terkadung dari hadist di atas adalah menunjukan ilmu pengetahuan yang didasari iman (keyakinan) seorang muslim pastilah akan memberikan manfaat untuk sekitar. Pengetahuan yang diperoleh melalui intuisi seseorang yang peka dan empati terhadap keadaan sosial di sekiling kita. Maka, ilmu merupakan ladang amal jariyah yang tidak pernah terputus sampai akhirat sepanjang ilmu yang dimilikinya ditularkan kepada sesama manusia. Sebaliknya, ilmu yang tidak bermanfaat ibarat pohon yang tak berbuat. Akar pohon akan membesar dan merusak bangunan di sekililing. Maka seorang yang beriman dan berilmu memiliki tanggungjawab sosial, tanpa didasari adanya ilmu pengetahuan yang cukup, maka tidak terarah dan tepat. Hubungan antara ilmu, iman dan tanggungjawab sosial memiliki variable yang saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan. Penggabungan antara ilmu dan dilandasi keimanan yang kuat akan melahirkan akhlat mulia dan terpuji bagi lingkungan sekitar.

Beriman kepada Allah SWT tidak hanya menjadi rukun Islam saja, namun berilmu menjadi kewajiban bagi setiap muslim harus dipenuhi. Betapa besar, maka kandungan Al-Quran dalam beberapa tafsir yang mengandung tentang pengetahuan untuk dipelajari oleh manusia. Ilmu dikaruniakan menurut bakat dan usaha mereka masing-masing.

Dalam opini ini, penulis berpendapat ilmu itu dibagi menjadi empat bagian.

Pertama, ilmu yang berkenaan dengan hukum agama, yakni ilmu yang berisi perintah dan larangan Allah SWT.

Kedua, ilmu tentang ruh atau haikay yang tersembunyi, yang disebut ilmu hakikat.

Ketiga, ilmu tentang maksud dibalik hukum atau syariat agama itu

Keempat, ilmu makrifat, yaitu ilmu yang berkenaan dengan pengenalan dzat bagi segala dzat atau hakikat bagi segala hakikat.

Manusia yang menjadi makhluk sempurna harusnya mengetahui peringkat-peringkat ilmu tersebut. Bila mereka belum mengenalkan, hendaknya mereka mencari jalan untuk mencari ilmu.

Dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud dan Imam Tirmidzi (No.2699) bersabda : “ "Barangsiapa menempuh jalan menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya untuk menuju surga". Ini menegaskan bahwa usaha mencari ilmu, khususnya ilmu agama yang bermanfaat, adalah ibadah mulia yang menjadi sebab utama kemudahan menuju surga dan petunjuk hidayah.

Agama Islam memberikan keutaman bagi manusia untuk mencari jalan ilmu. Tak terkecuali ilmu pengetahuan umum yang menuntut peran kehidupan manusia agar sebaik-baiknya bermanfaat bagi lingkungan. Seorang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti pada dirnya saja, namun ilmu wajib ditularkan atau ditransmisikan kepada sesama manusia dan lingkungan sosial. Orang yang berilmu dipastikan memiliki tanggungjawab sosial yang tinggi. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki ilmu tidak memiliki empati yang kuat terhadap keadaan dan kondisi di lingkungan. Ilmu pengetahuan juga menjadi jalan pedoman untuk menuntun kita ke arah benar dan dapat mengantarkan kita pada kehidupan bahagia di dunia maupun akhirat dan menjadi cahaya yang menyinari kehidupan manusia sehingga mereka tidak kehilangan arah.

Manusia dapat membedakan antara benar dan salah melalui ilmu pengetahuan, sehingga bisa memahami kewajibannya sebagai manusia yang bertaqwa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Maka Allah SWT akan mengangkat derajat manusia di dunia dan di akhirat nanti. 

Ilmu pengetahuan berperan penting bagi manusia. Manusia tidak akan hidup lebih baik tanpa memiliki ilmu. Oleh karena itu, mari kita gunakan waktu sebaik-baiknya untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Kewajiban mencari ilmu telah dijelaskan di dalam Al-Quran dan Hadits. Belajar adalah kewajiban bagi setiap manusia, karena berguna untuk meningkatkan potensi diri. Manusia dapat mengetahui wawasan yang sebelumnya tidak dimengerti. Sehingga kita sebagai umat muslim sebaiknya memperhatikan dalam hal belajar, karena telah diketahui keutamaan para penuntut ilmu di dalam Islam.

Allah mewajibkan setiap muslim untuk menuntut ilmu yang tertuang dalam Al-Quran Surah Al-Mujadalah ayat 11: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bunyi ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT akan mengangkat derajat orang orang yang menuntut ilmu beberapa kali lebih tinggi dari orang orang yang tidak menuntut ilmu. Keterangan ini menjadi tanda bahwa ilmu yang membuat manusia lebih mulia, tidak melalui harta atau nasabnya. Begitupun dalam sebuah Hadits disebutkan juga keutamaan mempelajari ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Iman akan menuntun jalanya ilmu pengetahuan ke arah kebaikan dan kebenaran. Ilmu akan menjadi sarana penting dalam mengatur lingkungan sosial yang baik dan bermanfaat, keimanan seseorang tidak akan sempurna tanpa ilmu, dan segala amal ibadah, terutama berkaitan ilmu ubudiyah (keagamaan) tidak akan diterima oleh Allah SWT, sebab bagaimana akan diterima bila mengerjakan sesuatu tanpa ilmu yang memenuhi syarat sah dan rukunnya. Ilmu pengetahuan akan berjalan dituntun oleh iman yang kuat oleh seseorang.

Keimanan seorang yang kuat akan menjadi filter ilmu pengetahuan berjalan yang sesuai aturan, kebaikan dan mendorong ke arah perbaikan. Namun, tantangan globalisasi akan menjadi tatangan penting ilmu pengetahuan yang semakin liar dan culas. Tugas dari pada iman yang diperoleh melalui melalui keyakinan, dan indera pendengaran, penglihatan dan intiusi hati menjadi penyaring ilmu pengetahuan yang diiringi digitalisasi. Iman merupakan sumber ilmu yang paling dasar yang diperoleh dengan jalan keimanan dan ketaqwaan terhadap kepercayaan kepada Tuhan YME. Tantangan lain keimanan seseorang akan dipengaruhi oleh kepentingan konsumerisme, individualisme, dan materialisme yang menjadi tantangan ilmu pengetahuan. Dimana hal itu akan menjadi tabrakan antara keimanan dan keilmuan apabila tidak diimbangi dengan tanggungjawab sosial jangka panjang. Keimanan yang kuat diharapkan mampu mendorong setiap individu untuk menjaga kerukunan, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Amal sholeh merupakan bagian dari tanggungjawab keilmuan seseorang. Dalam ajaran agama Islam, amal shaleh mencakup tindakan yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk upaya untuk memperbaiki kondisi sosial dan lingkungan. Menjaga keadilan sosial berarti memastikan setiap individu mendapatkan hak yang adil, tanpa diskriminasi. Memberantas kemiskinan adalah tanggung jawab sosial untuk mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin, serta memberi kesempatan yang lebih besar kepada mereka yang kurang beruntung. Sedangkan menjaga lingkungan mencerminkan kepedulian terhadap keberlanjutan hidup di bumi, yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab moral kepada sesama dan generasi mendatang.

 

                        

 


[1] https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-mujadalah-ayat-11-allah-mengangkat-derajat-orang-berilmu-Isbgq


di share oleh :

Muhammad Dasuki